IBX5980432E7F390 Dalil Dan Hukum Membaca Qunut Dalam Shalat Fardhu dan Dalil Dan Hukum Membaca Qunut Dalam Serta Witir - Global MengaJi

Dalil Dan Hukum Membaca Qunut Dalam Shalat Fardhu dan Dalil Dan Hukum Membaca Qunut Dalam Serta Witir

بِسْــــــــــــــــمِ اﷲِالرَّحْمَنِ اارَّحِيم
Permasalahan tentang doa qunut merupakan masalah klasik yang dialami oleh umat Islam, bahkan hal ini terjadi pada zaman Rasulullah SAW hingga sekarang. Namun, hal yang paling krusial adalah ada tidaknya qunut pada shalat shubuh atau khusus shalat shubuh, mengenai hal ini diperlukan adanya nash-nash yang mendasari suatu amalan agar sesuai dengan sunnah Rasulullah SAW. Tulisan ini bukan bermaksud untuk memperuncing perbedaan, bukan pula hendak memfatwakan benar-salah, tetapi mengajak pembaca untuk mendasarkan amaliah ibadah itu semata karena adanya perintah (dalil). Artinya, saya melakukan sesuatu karena tahu ada dalilnya, dan saya meninggalkan sesuatu karena tahu ada dalilnya. Wallaahu a'lam.
Qunut ada tiga macam:
1. Qunut nazilah: qunut yang dilakukan setiap melaksanakan shalat lima waktu. Qunut ini dilakukan ketika kaum muslimin sedang mendapatkan gangguan dari musuhnya (orang kafir).
2. Qunut shubuh: menurut pendapat Mazhab Syafi’iyah, qunut ini dianjurkan; hanya untuk shalat subuh, bukan shalat lainnya.
3. Qunut witir: qunut ini hanya dilakukan ketika shalat witir.

1. Membaca Qunut Dalam Shalat 5 Waktu

Disyari'atkan membaca qunut dengan suara keras dalam shalat lima waktu ketika ada bencana. Diriwayatkan dari Ibnu Abbas r.a
عَنِ ابْنِ عَبَّاسٍ قَالَ: قَنَتَ رَسُوْلُ اللهِ شَهْرًا مُتَتَابِعًا فِي الظُّهْرِ وَالْعَصْرِ وَالْمَغْرِبِ وَالْعِشَاءِ وَصَلاَةِ الْصُّبْحِ فِيْ دُبُرِ كُلِّ صَلاَةٍ إِذَا قَالَ: سَمِعَ اللَّهُ لِمَنْ حَمِدَهُ مِنَ الرَّكْعَةِ اْلأَخِرَةِ يَدْعُوْ عَلَى أَحْيَاءٍ مِنْ بَنِيْ سُلَيْمٍ عَلَى رِعْلٍ وَذَكْوَانَ وَعُصَيَّةَ، وَيُؤَمِّنُ مَنْ خَلْفَهُ.
"Rasulullah saw. telah berqunut sebulan berturut-turut dalam shalat-shalat Dzuhur, 'Ashar, Maghrib, 'Isya dan Shubuh yaitu dalam raka'at terakhir ketika itidal sehabis mengucapkan 'Sami'allaahu liman hamidah' Di situ beliau berdo'a untuk kebinasaan bani Sulain, Ra'al, Dzakwan dan Ushaiyah, sedang ma'mum yang di belakangnya mengaminkan do'a itu." [1].

Dari Abu Hurairah r.a. bahwa:
عَنْ أَبِيْ هُرَيْرَةَ أَنَّ النَّبِيَّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ كَانَ اِذَا أَرَادَ أَنْ يَدْعُوَ عَلَى أَحَدٍ أَوْ يَدْعُوَ ِلأَحَدٍ قَنَتَ بَعْدَ الرُّكُوْعِ، فَرُبَّمَا قَالَ: إِذَا قَالَ: سَمِعَ اللَّهُ لِمَنْ حَمِدَهُ رَبَّنَا لَكَ الْحَمْدُ اَللَّهُمَّ اَنْجِ الْوَلِيْدَ بْنَ الْوَلِيْدِ، وَسَلَمَةَ بْنَ هِشَامٍ، وَعَيَّاشَ بْنَ أَبِيْ رَبِيْعَةَ وَالْمُسْتَضْعَفِيْنَ مِنَ الْمُؤْمِنِيْنَ. اَللَّهُمَّ اشْدُدُ وَطْأَتَكَ عَلَى مُضَرَ، وَاجْعَلْهَا عَلَيْهِمْ سِنِيْنَ كَسِنِيْ يُوْسُفَ
قَالَ: يَجْهَرُ بِذَلِكَ، وَكَانَ يَقُوْلُ فِيْ بَعْضِ صَلاَتِهِ فِي صَلاَةِ الْفَجْرِ: اَللَّهُمَّ الْعَنْ فُلاَنًا وَفُلاَنًا. ِلأَحْيَاءٍ مِنَ الْعَرْبِ حَتَّى أَنْزَلَ اللَّهُ: 
Sesungguhnya Nabi Shallallahu 'alaihi wa sallam, apabila hendak mendo’akan kecelakaan atas seseorang atau mendo’akan kebaikan untuk seseorang, beliau mengerjakan qunut sesudah ruku’, dan kemungkinan apabila ia membaca: Sami’allahu liman hamidah, (lalu) beliau membaca, ‘Allahumma… dan seterusnya (yang artinya: Ya Allah, selamatkanlah Walid bin Walid dan Salamah bin Hisyam dan ‘Ayyasy bin Abi Rabi’ah dan orang-orang yang tertindas dari orang-orang Mukmin. Ya Allah, keraskanlah siksa-Mu atas (kaum) Mudhar, Ya Allah, jadikanlah atas mereka musim kemarau seperti musim kemarau (yang terjadi pada zaman) Yusuf.’”
Abu Hurairah berkata, “Nabi keraskan bacaannya itu dan ia membaca dalam akhir shalatnya dalam shalat Shubuh: Allahummal ‘an fulanan… dan seterusnya (Ya Allah, laknatlah si fulan dan si fulan) yaitu (dua orang) dari dua kabilah bangsa Arab, sehingga Allah menurunkan ayat: ‘Sama sekali urusan mereka itu bukan menjadi urusanmu... (dan seterusnya).’” [2].

2. Membaca Qunut Dalam Shalat Shubuh

Qunut dalam shalat shubuh itu tidak disyari'atkan kecuali apabila terjadi bahaya. Dan kalau terjadi bahaya itu, maka bukan hanya dalam shalat shubuh saja disunnatkan berqunut tapi juga dalam semua shalat fardhu, sebagaimana keterangan di atas.
Hadis riwayat Ahmad, Nasa’I dan Turmudzi 
حَدَّثَنَا أَحْمَدُ بْنُ مَنِيعٍ حَدَّثَنَا يَزِيدُ بْنُ هَارُونَ عَنْ أَبِى مَالِكٍ الأَشْجَعِىِّ قَالَ قُلْتُ لأَبِى يَا أَبَةِ إِنَّكَ قَدْ صَلَّيْتَ خَلْفَ رَسُولِ اللَّهِ -صلى الله عليه وسلم- وَأَبِى بَكْرٍ وَعُمَرَ وَعُثْمَانَ وَعَلِىِّ بْنِ أَبِى طَالِبٍ هَا هُنَا بِالْكُوفَةِ نَحْوًا مِنْ خَمْسِ سِنِينَ أَكَانُوا يَقْنُتُونَ قَالَ أَىْ بُنَىَّ مُحْدَثٌ. قَالَ أَبُو عِيسَى هَذَا حَدِيثٌ حَسَنٌ صَحِيحٌ
" …Ayahku bersholat di belakang Rasulullah SAW, ketika masih berusia 16 Tahun, juga di belakang Abu Bakar, Umar dan Utsman. Saya bertanya: Apakah beliau-beliau itu berqunut? Ayah menjawab: Tidak, wahai anakku, itu hanya suatu yang diada-adakan."

Juga dari Ibnu Hibban, Al-Khatib dan Ibnu Khuzaimah dan dianggapnya sebagai hadits hasan dari Anas r.a.: 
أَنَّ النَّبِيَّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَآلِهِ وَسَلَّمَ كَانَ لاَ يَقْنُتُ إِلاَّ إِذَا دَعَا لِقَوْمٍ أَوْ عَلَى قَوْمٍ
“Sesungguhnya Nabi shollallahu ‘alaihi wa a lihi wa sallam tidak melakukan qunut kecuali bila beliau berdo’a untuk (kebaikan) suatu kaum atau berdo’a (kejelekan atas suatu kaum)” .[3].
Ibnu Abi Syu'aibah meriwayatkan dari ibnu Mas'ud, Ibnu Umar, Ibnu Abbas, Ibnu Zubair dan khalifah-khalifah yang tiga (Abu Bakar, Umar dan Utsman) bahwa beliau-beliau semua tidak ada yang berqunut dalam shalat Shubuh.
Demikianlah madzhab golongan Hanafi, Hambali, Ibnul Mubarak, Tsauri dan Ishak.

Pendapat Syafi'i.

Adapun menurut madzhab Syafi'i, maka berqunut dalam shalat Shubuh sesudah rukuk dari raka'at kedua itu adalah sunat. Ini berdasarkan hadits yang diriwayatkan oleh Jama'ah selain Turmudzi dari Ibnu Sirin, bahwa:
اَنَّ أَنَسَ بْنَ مَالِكٍ سُئِلَ :هَلْ قَنَتَ النَّبِيُّ صلّى الله عليه وسلم فِى صَلَاةِ الصُّبْحِ ؟ فَقَالَ :نَعَمْ. فَقِيْلَ لَهُ: قَبْلَ الرّكُوْعِ أَوْ بَعْدَهُ؟ قَال: بَعْدَ الرَّكُوْعِ .   
“Anas bin Malik pernah ditanya demikian: ‘apakah Nabi saw. berqunut dalam sholat Subuh’? Ia menjawab: ‘Ya’. Ditanya pula: ‘Sebelum ruku’ atau sesudahnya’? Ia menjawab: ‘sesudah ruku’.”
Juga berdasarkan hadits yang diriwayatkan oleh Ahmad, Bazzar, Daruquthni, Baihagi dan hakim yang menganggapnya shahih dari Anas, katanya: 
مَا زَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يَقْنُتُ فِي الْفَجْرِ حَتَّى فَارَقَ الدُّنْيَا
“Rasulullah saw. senantiasa berqunut pada salat shubuh hingga beliau berpisah dari dunia (wafat).[4].
  • Maksud Hadits. Dalam menggunakan hadits ini sebagai dalil, haruslah ditinjau lebih dulu, sebab kemungkinan sekali bahwa yang ditanyakan tadi adalah qunut Nazilah (karena ada bahaya) dan hal ini sudah jelas sunatnya dalam riwayat Bukhari dan Muslim.
  • Berqunut Sepanjang Hidup ? Tentang hadits kedua yang menyatakan bahwa Nabi saw. berqunut selama hayatnya, maka di dalam sanad hadits itu ada seorang bernama Ja'faar ar-Razi. Ia bukan seorang yang kuat dan haditsnya tidak dapat digunakan sebagi hujjah, sebab tidak masuk akal bahwa selama hidupnya Rasulullah saw. berqunut dalam shalat Shubuh, tetapi ditinggalkan begitu saja oleh para khalifah sesudahnya. Bahkan ada keterangan Anas sendiri juga berqunut dalam shalat Shubuh.
  • Hal Mubah. Andai hadits di atas dianggap sah, maka yang dimaksudkan Nabi saw. selalu berqunut itu ialah memperpanjang berdiri sehabis ruqu' untuk berdo'a atau mengucapkan puji-pujian sampai beliau saw. meninggal dunia, sebab perbuatan semacam ini pun termasuk dalam pengertian qunut. Dan inilah agaknya pendapat yang lebih sesuai dengan keadaan yang sebenarnya. Tetapi bagaimanapun perselisihan para ulama dalam hal ini, maka qunut itu termasuk sesuatu hal yang mubah, boleh dilakukan atau ditinggalkan. Hanya saja yang sebaik-baiknya adalah yang berasal dari petunjuk Nabi saw.

3. Membaca Qunut Dalam Shalat Witir

Bacaan qunut ini disyari'atkan dalam semua shalat witir berdasarkan hadits yang diriwayatkan oleh Ahmad, Ash-habus Sunan dan lainnya dari hadits Hasan bin Ali r.a., katanya:
اللَّهُمَّ اهْدِنِى فِيمَنْ هَدَيْتَ وَعَافِنِى فِيمَنْ عَافَيْتَ وَتَوَلَّنِى فِيمَنْ تَوَلَّيْتَ وَبَارِكْ لِى فِيمَا أَعْطَيْتَ وَقِنِى شَرَّ مَا قَضَيْتَ فَإِنَّكَ تَقْضِى وَلاَ يُقْضَى عَلَيْكَ وَإِنَّهُ لاَ يَذِلُّ مَنْ وَالَيْتَ تَبَارَكْتَ رَبَّنَا وَتَعَالَيْتَ
Allahummahdiini fiiman hadait, wa’aafini fiiman ‘afait, watawallanii fiiman tawallait, wabaarik lii fiima a’thait, waqinii syarrama qadlait, fainnaka taqdhi walaa yuqdho ‘alaik, wainnahu laa yadzillu man waalait, tabaarakta rabbana wata’aalait. (Ya Allah, berilah aku petunjuk di antara orang-orang yang Engkau beri petunjuk, dan berilah aku keselamatan di antara orang-orang yang telah Engkau beri keselamatan, uruslah diriku di antara orang-orang yang telah Engkau urus, berkahilah untukku apa yang telah Engkau berikan kepadaku, lindungilah aku dari keburukan apa yang telah Engkau tetapkan, sesungguhnya Engkau Yang memutuskan dan tidak diputuskan kepadaku, sesungguhnya tidak akan hina orang yang telah Engkau jaga dan Engkau tolong. Engkau Maha Suci dan Maha Tinggi)”[5]. 

Pendapat Para Ulama

  • Turmudzi berkata: "Ini adlah hadits hasan. Bahkan tiada suatu keterangan pun tentang qunut dari Nabi saw. yang lebih baik dari hadits ini."
  • Nawawi berkata bahwa isnadnya sah. Ibnu Hazmin tawaqquf tentang sah atau tidaknya hadits tetapi ia berkata pula:"Hadits ini sekalipun tidak dapat digunakan sebagai dalail, tetapi tidak ada hadits lain dalam soal qunut itu yang diterima dari Nabi saw. Jadi meskipun dha'if kedudukannya, bagi kami masih lebih baik daripada pendapat manusia. Tentang ini kami sependapat dengan Ibnu Hambal.
  • Begitu pula madzhab Ibnu Mas'ud, Abu Musa, Ibnu Abbas, Al-Barra', Anas, Hasan al-Basri, Umar bin Abdul 'Aziz, Tsauri, Ibnul Mubarak, Ulama-ulama Hanafiah dan salah satu riwayat Ahmad
  • Nawawi Berkata: "Dari jurusan ini dapatlah menjadi kekuatan sebagai dalil."
  • Syafi'i berpendapat tidak perlu berqunut kecuali dalam pertengahan yang akhir dari bulan Ramadhan. Ini berdasarkan riwayat Abu Daud bahwa Umar bin Khattab mengumpulkan orang banyak untuk bershalat jama'ah dengan bermakmum kepada Ubai bin Ka'ab. Selama 21 hari ubai mengimami mereka itu dan tidak pernah berqunut melainkan dalam pertengahan akhir dari Ramadhan.
  • Diriwayatkan pula oleh Muhammad bin Nash bahwa Said bin Jubair ditanya tentang permulaan membaca qunut dalam witir, lalu ia menjawab: "Pada suatu ketika Umar bin Khattab mengirimkan sepasukan tentara, tiba-tiba mereka tersesat di jalan sehingga Umar khawatir atas mereka itu. Maka setelah tiba pertengahan akhir bulan Ramadhan, ia pun berqunut mendo'akan mereka."
    ﺳُﺒْﺤَﺎﻧَﻚَ ﺍﻟﻠَّﻬُﻢَّ ﻭَﺑِﺤَﻤْﺪِﻙَ ﺃَﺷْﻬَﺪُ ﺃَﻥْ ﻻَ ﺇِﻟﻪَ ﺇِﻻَّ ﺃَﻧْﺖَ ﺃَﺳْﺘَﻐْﻔِﺮُﻙَ ﻭَﺃَﺗُﻮْﺏُ ﺇِﻟَﻴْﻚ                               
 “Maha suci Engkau ya Allah, dan segala puji bagi-Mu. Aku bersaksi bahwa tiada Tuhan melainkan Engkau. Aku mohon ampun dan bertaubat kepada-Mu.” 
Sumber:
Fikih Sunnah jilid 2 hal.43-53, Sayyid Saabiq, Penerbit: PT.Al-Ma'arif, Bandung.
https://rendyasylum.wordpress.com/2010/09/29/qunut-shalat-shubuh-dan-sunnahnya-qunut
------------------------------------------------------------------
[1]. Diriwayatkan oleh Abu Daud dan Ahmad yang menambahkan demikian: "Rasulullah saw. mengirimkan beberapa orang mubaligh untuk mengajak mereka ke dalam agama islam, tetapi mereka itu dibunuh." 'Ikrimah berkata bahwa peristiwa itulah yang merupakan permulaan qunut.
[2]. Hadits shahih riwayat Ahmad ii/255 dan al-Bukhari No 4560.
[3]. Dikeluarkan oleh Ibnu Khuzaimah 1/314 no. 620 dan dan Ibnul Jauzi dalam At-Tahqiq 1/460 dan dishahihkan oleh Syeikh Al-Albani dalam Ash-Shahihah no. 639.
[4]. H.R. Ahmad, al-Musnad, III:162; ‘Abdurrazzaq, al-Mushannaf, III:110; Ibnu Abi Syaibah, al-Mushannaf, II:312; ath-Thahawi, Syarah Ma’an al-Atsar, I:244; ad-Daraquthni, Sunan ad-Daraquthni, II:39; al-Baihaqi, as-Sunan al-Kubra, II:201; al-Baghawi, Syarh as-Sunnah, III:124; Ibn al-Jauzi, al-‘Ilal al-Mutanahiyah, I:441, No.753.
[5]. (HR. Abu Daud no. 1425, An Nasai no. 1745, At Tirmidzi no. 464. Syaikh Al Albani mengatakan bahwa hadits ini shahih).

=============
Syaikh Muhammad bin Sholih Al Utsaimin pernah ditanya: Bagaimana pendapat empat Imam Madzhab mengenai qunut?


Syaikh rahimahullah menjawab:

Pendapat imam madzhab dalam masalah qunut adalah sebagai berikut.

Pertama: Ulama Malikiyyah

Mereka berpendapat bahwa tidak ada qunut kecuali pada shalat shubuh saja. Tidak ada qunut pada shalat witir dan shalat-shalat lainnya.

Kedua: Ulama Syafi’iyyah

Mereka berpendapat bahwa tidak ada qunut dalam shalat witir kecuali ketika separuh akhir dari bulan Ramadhan. Dan tidak ada qunut dalam shalat lima waktu yang lainnya selain pada shalat shubuh dalam setiap keadaan (baik kondisi kaum muslimin tertimpa musibah ataupun tidak, -pen). Qunut juga berlaku pada selain shubuh jika kaum muslimin tertimpa musibah (yaitu qunut nazilah).

Ketiga: Ulama Hanafiyyah

Disyariatkan qunut pada shalat witir. Tidak disyariatkan qunut pada shalat lainnya kecuali pada saat nawaazil yaitu kaum muslimin tertimpa musibah, namun qunut nawaazil ini hanya pada shalat shubuh saja dan yang membaca qunut adalah imam, lalu diaminkan oleh jama’ah dan tidak ada qunut jika shalatnya munfarid (sendirian).

Keempat: Ulama Hanabilah (Hambali)

Mereka berpendapat bahwa disyari’atkan qunut dalam witir. Tidak disyariatkan qunut pada shalat lainnya kecuali jika ada musibah yang besar selain musibah penyakit. Pada kondisi ini imam atau yang mewakilinya berqunut pada shalat lima waktu selain shalat Jum’at.

Sedangkan Imam Ahmad sendiri berpendapat, tidak ada dalil yang menunjukkan bahwa Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam pernah melakukan qunut witir sebelum atau sesudah ruku’.

Inilah pendapat para imam madzhab. Namun pendapat yang lebih kuat, tidak disyari’atkan qunut pada shalat fardhu kecuali pada saat nawazil (kaum muslimin tertimpa musibah). Adapun qunut witir tidak ada satu hadits shahih pun dari Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam yang menunjukkan beliau melakukan qunut witir. Akan tetapi dalam kitab Sunan ditunjukkan bahwa Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam mengajarkan Al Hasan bin ‘Ali bacaan yang diucapkan pada qunut witir yaitu “Allahummah diini fiiman hadayt …”. Sebagian ulama menshahihkan hadits ini[1]. Jika seseorang melakukan qunut witir, maka itu baik. Jika meninggalkannya, juga baik. Hanya Allah yang memberi taufik. (Ditulis oleh Syaikh Muhammad Ash Sholih Al ‘Utsaimin, 7/ 3/ 1398)[2]

Adapun mengenai qunut shubuh secara lebih spesifik, Syaikh Muhammad bin Sholih Al Utsaimin menjelaskan dalam fatwa lainnya. Beliau pernah ditanya: “Apakah disyari’atkan do’a qunut witir (Allahummah diini fiiman hadayt …) dibaca pada raka’at terakhir shalat shubuh?”

Beliau rahimahullah menjelaskan: “Qunut shubuh dengan do’a selain do’a ini (selain do’a “Allahummah diini fiiman hadayt …”), maka di situ ada perselisihan di antara para ulama. Pendapat yang lebih tepat adalah tidak ada qunut dalam shalat shubuh kecuali jika di sana terdapat sebab yang berkaitan dengan kaum muslimin secara umum. Sebagaimana apabila kaum muslimin tertimpa musibah -selain musibah wabah penyakit-, maka pada saat ini mereka membaca qunut pada setiap shalat fardhu. Tujuannya agar dengan do’a qunut tersebut, Allah membebaskan musibah yang ada.”

Apakah perlu mengangkat tangan dan mengaminkan ketika imam membaca qunut shubuh?

Dalam lanjutan perkataannya di atas, Syaikh Ibnu ‘Utsaimin mengatakan:

“Oleh karena itu, seandainya imam membaca qunut shubuh, maka makmum hendaklah mengikuti imam dalam qunut tersebut. Lalu makmum hendaknya mengamininya sebagaimana Imam Ahmad rahimahullah memiliki perkataan dalam masalah ini. Hal ini dilakukan untuk menyatukan kaum muslimin.

Adapun jika timbul permusuhan dan kebencian dalam perselisihan semacam ini padahal di sini masih ada ruang berijtihad bagi umat Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam, maka ini selayaknya tidaklah terjadi. Bahkan wajib bagi kaum muslimin –khususnya para penuntut ilmu syar’i- untuk berlapang dada dalam masalah yang masih boleh ada perselisihan antara satu dan lainnya. ” [3]

Dalam penjelasan lainnya, Syaikh Muhammad bin Sholih Al Utsaimin mengatakan, “Yang lebih tepat makmum hendaknya mengaminkan do’a (qunut) imam. Makmum mengangkat tangan mengikuti imam karena ditakutkan akan terjadi perselisihan antara satu dan lainnya. Imam Ahmad memiliki pendapat bahwa apabila seseorang bermakmum di belakang imam yang membaca qunut shubuh, maka hendaklah dia mengikuti dan mengamini do’anya. Padahal Imam Ahmad berpendapat tidak disyari’atkannya qunut shubuh sebagaimana yang sudah diketahui dari pendapat beliau. Akan tetapi, Imam Ahmad rahimahullah memberikan keringanan dalam hal ini yaitu mengamini dan mengangkat tangan ketika imam melakukan qunut shubuh. Hal ini dilakukan karena khawatir terjadinya perselisihan yang dapat menyebabkan renggangnya hati (antar sesama muslim).”[4]

Hanya Allah yang memberi taufik.

Disusun di Batu Merah, kota Ambon, 5 Syawal 1430 H

Penulis: Muhammad Abduh Tuasikal

Artikel https://rumaysho,.com



[1] Hadits ini diriwayakan oleh At Tirmidzi, Abu Daud, An Nasa-i, Ibnu Majah, dan Ad Darimiy. Syaikh Al Albani mengatakan bahwa hadits ini shahih dalm Misykatul Mashobih 1273 [20].

[2] Majmu’ Fatawa wa Rosa-il Ibnu ‘Utsaimin, 14/97-98, Asy Syamilah

[3] idem, 14/78

[4] idem, 14/80

=======
Doa Qunut Subuh dan Hukum Membaca Doa Qunut Shalat Subuh

Hukum Membaca doa Qunut dalam shalat Subuh. Sungguh tidak ada seorang pun ulama yang berkompeten dalam keilmuannya, yang membid’ahkan (mengharamkan) membaca doa Qunut Shalat Subuh. Masalah ini sebenarnya sudah tuntas dibahas oleh para Ulama Salaf. Dengan kesimpulan bahwa doa Qunut Subuh itu bukan Bid’ah.  Akan tetapi masih ada sebagian umat Islam di zaman ini yang ngotot berpendapat. Bahwa membaca doa Qunut dalam shalat Subuh adalah bid’ah (haram).

Sehingga mereka yang berpendapat doa Qunut Subuh itu bid’ah (haram), maka ketika bermakmum kepada Imam Shalat yang membaca doa Qunut. Mereka enggan mengaminkan doa Qunut yang dibaca Imam Shalat. Dan mereka hanya berdiri diam saja karena mereka kalau mengaminkan tentunya takut konsekwensinya, yaitu masuk neraka bersama Imam Shalat.

Konsekwensi dari pendapat ini jelas, berhubung karena setiap bid’ah adalah sesat menurut mereka, dan setiap yang sesat masuk neraka. Maka konsekwensi dari pendapat tersebut menyebabkan siapa yang membaca Doa Qunut dalam shalat Subuh masuk neraka. Na’udzu billah min dzaalik, semoga kita selamat dari neraka, amin….

Berikut ini penjelasan hukum membaca doa Qunut diserati dalilnya bagi mereka yang membaca doa qunut Subuh. Juga penjelasan bagi mereka yang keras kepala menolak dan bahkan membid’ahkan doa Qunut Subuh. Selamat mengikuti, semoga bermanfaat….


Hukum Membaca Doa Qunut Adalah Sunat
Terkait hukum membaca doa Qunut. Ini pendapat yang dikemukakan oleh para imam Mu’tabar. Seperti Imam Malik, Iamm As-Syafie, Ibnu Abi Laila, Hasan bin Soleh, Abu Ishaq Al Ghazali. Dan Abu Bakar bin Muhammad, dan Hakam bin Utaibah. Juga Hammad, Ahli HIjjaz, Al Auza’ie kebanyakan Ahli Syam malah menurut Imam An Nawawi dalam Majmu’. Ini adalah pendapat yang dipegang oleh kebanyakan ulama salaf. Dan generasi selepas daripada mereka bahawa Hukum Membaca Doa Qunut disunatkan pada shalat Subuh setiap hari.

Ini dalilnya Hukum Membaca Doa Qunut:

Mereka berdalilkan dengan sebuah hadits yang diriwayatkan oleh Imam Ahmad daripada Anas bin Malik r,a berkata :

Senantiasalah Rasulullah Saw membaca qunut pada shalat Subuh sehingga Baginda wafat.”

Diriwayatkan juga bahawa Sayidina Umar bin Khattab membaca doa Qunut pada shalat Subuh di hadapan para sahabat dan selainnya.

Berkenaan dengan hadits yang diriwayatkan daripada Anas bin Malik ini, menurut Imam al Haithami, para Perawinya adalah dipercayai. “Menurut an Nawawi ia diriwayatkan oleh sekumpulan huffaz (ahli hadits) dan mengakui keshahihannya.

Keshahihan ini dinyatakan oleh al Hafiz al Balkhi, Al Hakim, Al Baihaqi. Dan ia juga diriwayatkan oleh Ad Daruqutni melalui beberapa jalan dengan sanad yang shahih.

Dalam mazhab syafi’i membaca doa Qunut adalah sunat hukumnya dalam Shalat Subuh itu, baik pada ketika turunnya bala atau tidak. Ini adalah pendapat yang banyak dari ulama-ulama Salaf atau katakanlah yang paling banyak dan juga pendapat ulama-ulama setelah ulama Salaf. Bahkan para Sahabat Nabi di antara yang berpendapat serupa ini. Mereka adalah Sayidina Abu Bakar, Umar bin Khattab, Utsman bin Affan, Ali bin Abi thalib. Juga Ibnu Abbas dan Bara’ bin ‘azib Rda. (Terjemah bebas ruju’ ke al Majmu’ Syarah Muhazzab III halaman 504).

Doa Qunut Subuh dan Hukum Membaca Doa Qunut Shalat Subuh
Hukum Membaca Doa Qunut dalam Shalat Subuh di Kalangan Mazhab Syafi’iyah
Di dalam mazhab Syafi’i sudah disepakati. Bahawa membaca doa qunut dalam shalat Subuh, pada saat i’tidal rakaat kedua adalah sunat ab’adh. Dalam arti diberi pahala bagi orang yang mengerjakannnya. Dan bagi yang lupa atau lalai mengerjakannya disunatkan untuk menggantikannya dengan sujud sahwi.

Tersebut dalam kitab Al-Majmu’ syarah Muhazzab jilid 3 hlm.504, maksudnya:

“Dalam mazhab Syafi’i disunatkan qunut pada shalat Subuh sama ada ketika turun bencana atau tidak. Dengan hukum inilah berpegang mayoritas ulama salaf dan orang-orang yang sesudah mereka atau kebanyakan dari mereka. Dan di antara yang berpendapat demikian adalah Abu Bakar As-Siddiq, Umar bin Khattab, Usman bin Affan. Juga Ali bin Abi Talib, Ibnu Abbas, dan Barra’ bin Azib. Semoga Allah meridhoi mereka semua. Ini diriwayatkan oleh Baihaqi dengan sanad-sanad yang shahih. Banyak ulama yang termasuk Tabi’in dan yang sesudah mereka berpendapat demikian. Inilah juga mazhab Ibnu Abi Laila, Hasan, Ibnu Salah, Malik dan Daud.”

Tersebut dlm kitab Al-Um jilid 1 hlm.205 bahawa Imam Syafi’i berkata,maksudnya:

“Tak ada qunut dalam shalat yang lima waktu kecuali shalat Subuh. Kecuali jika terjadi bencana maka boleh qunut pada semua sembahyang jika imam menyukai.”

Tersebut dalam kitab Al-Mahalli jilid 1 hlm.157, berkata Imam JalaluddinAl-Mahalli, maksudnya:

“Disunatkan membaca Qunut pada i’tidal rakaat kedua dalam shalat Subuh dengan doa, Allahumahdini hingga selesai…”

Demikianlah keputusan dan kepastian hukum tentang membaca doa qunut subuh dalam mazhab kita As-Syafi’i.

ALASAN ORANG-ORANG YANG MENOLAK DOA QUNUT SUBUH
Hukum Membaca Doa Qunut ternyata ada juga yang mengharamkan (bid’ah). Ada orang yang berpendapat bahawa Nabi Muhammad saw melakukan doa Qunut satu bulan saja berdasarkan hadits Anas ra, maksudnya:

“Bahawasanya Nabi saw melakukan qunut selama satu bulan sesudah rukuk sambil mendoakan kecelakaan ke atas beberapa suku Arab. Kemudian baginda meninggalkannya.” Diriwayatkan oleh Bukhari dan Muslim.

Kita menjawab:

Hadits daripada Anas tersebut kita akui sebagi hadits yang shahih kerana terdapat dalam kitab hadits Imam Bukhari dan Imam Muslim. Akan tetapi yang menjadi permasalahan sekarang adalah kata:  (tsumma tarakahu= Kemudian Nabi meninggalkannya).

Apakah yg ditinggalkan oleh Nabi itu?

Meninggalkan qunutkah? Atau meninggalkan berdoa yang mengandungi kecelakaan ke atas suku-suku Arab zaman itu?

Untuk menjawab permasalahan inilah kita perhatikan baik-baik penjelasan Imam an-Nawawi dalam Al-Majmu’ jil.3,hlm.505 maksudnya:

“Adapun jawaban terhadap hadits Anas dan Abi Hurairah r.a dalam ucapannya dengan (tsumma tarakahu). Maka maksudnya adalah meninggalkan doa kecelakaan ke atas orang-orang kafir itu. Dan meninggalkan laknat terhadap mereka saja. Bukan meninggalkan seluruh doa qunut atau maksudnya meninggalkan doa qunut pada selain subuh. Pentafsiran seperti ini mesti dilakukan kerana hadits Anas di dalam ucapannya ‘senantiasa Nabi qunut di dalam shalat Subuh. Sehingga beliau meninggal dunia”. Ini adalah shahih lagi jelas maka wajiblah menggabungkan di antara kedua hadits tersebut.”

Imam Baihaqi meriwayatkan dan Abdur Rahman bin Madiyyil, bahawasanya beliau berkata, maksudnya:

“Hanyalah yang ditinggalkan oleh Nabi itu adalah melaknat.”

Tambahan lagi pentafsiran seperti ini dijelaskan oleh riwayat Abu Hurairah ra yg berbunyi, maksudnya:

“Kemudian Nabi menghentikan doa kecelakaan ke atas mereka.”

Dengan demikian dapatlah dibuat kesimpulan bahawa Qunut Nabi yang satu bulan itu adalah qunut nazilah. Dan doa qunut nazilah inilah yang ditinggalkan, bukan doa Qunut pada waktu shalat Subuh.

ALASAN LAINNYA KENAPA MEREKA MENOLAK DOA QUNUT SUBUH
Ada juga orang-orang yang tidak menyukai doa Qunut Subuh mengemukakan dalil hadits Saad bin Thariq. Yang juga bernama Abu Malik Al-Asja’i, maksudnya:

“Dari Abu Malik Al-Asja’i, beliau berkata: Aku pernah bertanya kepada bapakku, wahai bapak! Sesungguhnya engkau pernah shalat di belakang Rasulullah saw, Abu Bakar, Usman dan Ali bin Abi Thalib. Di sini di kufah selama kurang lebih dari lima tahun. Adakah mereka melakukan qunut?. Dijawab oleh bapaknya:”Wahai anakku, itu adalah bid’ah.” Diriwayatkan oleh Tirmizi.

Kita jawab:

Kalau benar Saad bin Thariq berkata begini maka sungguh mengherankan. Kerana hadits-hadits tentang Nabi dan para Khulafa Rasyidun yang melakukan doa Qunut sangat banyak. Juga ada di dalam kitab al-Bukhari, al-Muslim, Ibnu Majah, Abu Daud, Nasa’i dan Baihaqi.

Oleh karena itu ucapan Saad bin Thariq tersebut tidaklah diakui. Dan tidak terpakai di dlm mazhab Syafi’i dan juga mazhab Maliki.

Hal ini disebabkan oleh kerana beribu-ribu orang telah melihat Nabi melakukan doa Qunut, begitu pula sahabat baginda nabi. Padahal hanya Thariq seorang saja yang mengatakan doa qunut itu sebagai amalan bid’ah.

Maka dalam masalah ini berlakulah kaidah ushul fiqh yaitu:

“Almuthbitu muqaddimun a’la annafi”

Maksudnya: Orang yg menetapkan lebih didahulukan atas orang yang menafikan.

Tambahan lagi orang yang mengatakan ADA jauh lebih banyak daripada orang yang mengatakan TIDAK ADA.

Seperti inilah jawapan Imam Nawawi di dalam Al-Majmu’ jil.3,hlm.505, maksudnya:

“Dan jawaban kita terhadap hadits Saad bin Thariq adalah… Bahawa riwayat orang-orang yang menetapkan doa Qunut terdapat pada mereka itu tambahan ilmu dan juga mereka lebih banyak. Oleh karena itu wajiblah mendahulukan mereka”

Sayyidina Umar mengatakan bahawa doa qunut Subuh itu sunat
Pensyarah hadits Tirmizi yakni Ibnul ‘Arabi juga memberikan koment yang sama terhadap hadits Saad bin Thariq itu. Beliau mengatakan: “Telah sah dan tetap bahawa Nabi Muhammad saw melakukan doa qunut dalam shalat Subuh. Telah tetap pula bahawa Nabi ada Qunut sebelum rukuk atau sesudah rukuk. Telah tetap pula bahawa Nabi ada melakukan qunut nazilah. Dan para khalifah di Madinah pun melakukan qunut serta Sayyidina Umar mengatakan bahawa qunut itu sunat. Telah pula diamalkan di Masjid Madinah. Oleh itu janganlah kamu lihat dan jagan pula ambil perhatian terhadap ucapan yang lain daripada itu.”

Seorang ulama besar ahli fiqh dari Jakarta yakni Kiyai Haji Muhammad Syafi’i Hazami di dalam kitabnya Taudhihul Adillah. Beliau ketika memberi koment terhadap hadits Saad bin Thariq itu berkata:

“Sudah terang doa qunut (Subuh) itu bukan bid’ah menurut semua riwayat yang ada. Maka yang (menganggap) bid’ah itu adalah meragukan kesunatannya sehingga masih bertanya-tanya pula. Sudah gaharu cendana pula, sudahh tahu bertanya pula.”

Dengan demikian dapatlah kita fahami ketegasan Imam Uqaili yang mengatakan bahawa Abu Malik itu jangan diikuti haditsnya dalam masalah qunut. (Mizanul I’tidal jil.2,hlm.122).

ALASAN LAINNYA YANG MENOLAK DOA QUNUT SUBUH
Ada juga orang mengetengahkan riwayat dari Ibnu Masu’d. Yang mengatakan, maksudnya: “Nabi Muhammad Saw tidak pernah Qunut di dalam shalat apa pun.”

Kita jawab:

Riwayat ini menurut Imam Nawawi dalam Al-Majmu’ adalah terlalu dhaif. Kerana di antara perawinya terdapat Muhammad bin Jabir A-Suhaimi yang ucapannya selalu ditinggalkan oleh ahli-ahli hadits. Tersebut dalam kitab Mizanul I’tidal karangan Az-Zahabi bahawa Muhammad bin Jabir As-Suhaimi adalah orang yang dhaif. Menurut perkataan Ibnu Mu’in dan Imam Nasa’i.

Imam Bukhari mengatakan: “Ingatannya tidak kuat!”

Imam Abu Hatim mengatakan:”Dalam waktu yang akhir dia agak pelupa dan kitabnya telah hilang.” (Mizanul I’tidal jil. 3, hlm.492)

Kita juga boleh mengatakan dengan jawaban terdahulu bahawa orang yg mengatakan ADA lebih didahulukan. Daripada orang yang mengatakan TIDAK ADA berdasarkan kaedah:

“Al-muthbitu muqaddamun a’la annafi” maksudnya: “Orang yang menetapkan lebih didahulukan atas orang yang menafikan.

KENAPA MEREKA MENOLAK DOA QUNUT SUBUH, INILAH ALASAN LAINNYA
Mereka yang menolak Qunut Subuh, ada juga yang mengajukan dalil bahawa Ibnu Abbas berkata, maksudnya:

“Qunut pada shalat Subuh itu bid’ah.”

Kita jawab:

Hadits ini sangat dhaif kerana Al-Baihaqi meriwayatkannya dari Abu Laila Al-Kufi. Dan Baihaqi sendiri mengatakan bahawa hadits ini tidak shahih. Kerana Abu Laila itu adalah matruk (orang yg ditinggalkan haditsnya).

Tambahan lagi pada hadits yang lain Ibnu Abbas sendiri mengatakan, maksudnya: “Bahawa Nabi saw melakukan Qunut pada shalat subuh.”

MEREKA MENOLAK DOA QUNUT SUBUH KARENA NABI SAW MELARANG DOA QUNUT SUBUH?
Mereka yang menolak Qunut Subuh, ada juga yang membawa dalil bahawa Ummu Salamah berkata, maksudnya:

“Bahawasanya Nabi Saw melarang qunut pada shalat subuh.”

Kita jawab:

Hadits ini juga dhaif. Kerana diriwayatkan dari Muhammad bin Ya’la dari Anbasah bin Abdurrahman dari Abdullah bin Nafi dari bapanya dari Ummu Salamah.

Berkata Daruqutni: Ketiga orang itu semuanya adalah lemah dan tidak benar kalau Nafi mendengar hadits itu dari Ummu Salamah.

Tersebut dalam Mizanul I’tidal: Muhammad bin Ya’la itu diperkata-katakan oleh Imam Bukhari bahawa dia banyak menghilangkan hadits. Abu Hatim mengatakannya matruk. (mizanul I’tidal 4/70). Anbasah bin Abdurrahman menurut Imam Bukhari haditsnya matruk. Manakala Abdullah bin Nafi adalah orang yang banyak meriwayatkan hadits munkar. (Mizanul I’tidal 2/422).

Demikian, semoga bermanfaat soal pembahasan Hukum Membaca doa Qunut.

========
Doa Qunut Subuh dan Hukum Membaca Doa Qunut Shalat Subuh

Hukum Membaca doa Qunut dalam shalat Subuh. Sungguh tidak ada seorang pun ulama yang berkompeten dalam keilmuannya, yang membid’ahkan (mengharamkan) membaca doa Qunut Shalat Subuh. Masalah ini sebenarnya sudah tuntas dibahas oleh para Ulama Salaf. Dengan kesimpulan bahwa doa Qunut Subuh itu bukan Bid’ah.  Akan tetapi masih ada sebagian umat Islam di zaman ini yang ngotot berpendapat. Bahwa membaca doa Qunut dalam shalat Subuh adalah bid’ah (haram).

Sehingga mereka yang berpendapat doa Qunut Subuh itu bid’ah (haram), maka ketika bermakmum kepada Imam Shalat yang membaca doa Qunut. Mereka enggan mengaminkan doa Qunut yang dibaca Imam Shalat. Dan mereka hanya berdiri diam saja karena mereka kalau mengaminkan tentunya takut konsekwensinya, yaitu masuk neraka bersama Imam Shalat.

Konsekwensi dari pendapat ini jelas, berhubung karena setiap bid’ah adalah sesat menurut mereka, dan setiap yang sesat masuk neraka. Maka konsekwensi dari pendapat tersebut menyebabkan siapa yang membaca Doa Qunut dalam shalat Subuh masuk neraka. Na’udzu billah min dzaalik, semoga kita selamat dari neraka, amin….

Berikut ini penjelasan hukum membaca doa Qunut diserati dalilnya bagi mereka yang membaca doa qunut Subuh. Juga penjelasan bagi mereka yang keras kepala menolak dan bahkan membid’ahkan doa Qunut Subuh. Selamat mengikuti, semoga bermanfaat….


Hukum Membaca Doa Qunut Adalah Sunat
Terkait hukum membaca doa Qunut. Ini pendapat yang dikemukakan oleh para imam Mu’tabar. Seperti Imam Malik, Iamm As-Syafie, Ibnu Abi Laila, Hasan bin Soleh, Abu Ishaq Al Ghazali. Dan Abu Bakar bin Muhammad, dan Hakam bin Utaibah. Juga Hammad, Ahli HIjjaz, Al Auza’ie kebanyakan Ahli Syam malah menurut Imam An Nawawi dalam Majmu’. Ini adalah pendapat yang dipegang oleh kebanyakan ulama salaf. Dan generasi selepas daripada mereka bahawa Hukum Membaca Doa Qunut disunatkan pada shalat Subuh setiap hari.

Ini dalilnya Hukum Membaca Doa Qunut:

Mereka berdalilkan dengan sebuah hadits yang diriwayatkan oleh Imam Ahmad daripada Anas bin Malik r,a berkata :

Senantiasalah Rasulullah Saw membaca qunut pada shalat Subuh sehingga Baginda wafat.”

Diriwayatkan juga bahawa Sayidina Umar bin Khattab membaca doa Qunut pada shalat Subuh di hadapan para sahabat dan selainnya.

Berkenaan dengan hadits yang diriwayatkan daripada Anas bin Malik ini, menurut Imam al Haithami, para Perawinya adalah dipercayai. “Menurut an Nawawi ia diriwayatkan oleh sekumpulan huffaz (ahli hadits) dan mengakui keshahihannya.

Keshahihan ini dinyatakan oleh al Hafiz al Balkhi, Al Hakim, Al Baihaqi. Dan ia juga diriwayatkan oleh Ad Daruqutni melalui beberapa jalan dengan sanad yang shahih.

Dalam mazhab syafi’i membaca doa Qunut adalah sunat hukumnya dalam Shalat Subuh itu, baik pada ketika turunnya bala atau tidak. Ini adalah pendapat yang banyak dari ulama-ulama Salaf atau katakanlah yang paling banyak dan juga pendapat ulama-ulama setelah ulama Salaf. Bahkan para Sahabat Nabi di antara yang berpendapat serupa ini. Mereka adalah Sayidina Abu Bakar, Umar bin Khattab, Utsman bin Affan, Ali bin Abi thalib. Juga Ibnu Abbas dan Bara’ bin ‘azib Rda. (Terjemah bebas ruju’ ke al Majmu’ Syarah Muhazzab III halaman 504).

Doa Qunut Subuh dan Hukum Membaca Doa Qunut Shalat Subuh
Hukum Membaca Doa Qunut dalam Shalat Subuh di Kalangan Mazhab Syafi’iyah
Di dalam mazhab Syafi’i sudah disepakati. Bahawa membaca doa qunut dalam shalat Subuh, pada saat i’tidal rakaat kedua adalah sunat ab’adh. Dalam arti diberi pahala bagi orang yang mengerjakannnya. Dan bagi yang lupa atau lalai mengerjakannya disunatkan untuk menggantikannya dengan sujud sahwi.

Tersebut dalam kitab Al-Majmu’ syarah Muhazzab jilid 3 hlm.504, maksudnya:

“Dalam mazhab Syafi’i disunatkan qunut pada shalat Subuh sama ada ketika turun bencana atau tidak. Dengan hukum inilah berpegang mayoritas ulama salaf dan orang-orang yang sesudah mereka atau kebanyakan dari mereka. Dan di antara yang berpendapat demikian adalah Abu Bakar As-Siddiq, Umar bin Khattab, Usman bin Affan. Juga Ali bin Abi Talib, Ibnu Abbas, dan Barra’ bin Azib. Semoga Allah meridhoi mereka semua. Ini diriwayatkan oleh Baihaqi dengan sanad-sanad yang shahih. Banyak ulama yang termasuk Tabi’in dan yang sesudah mereka berpendapat demikian. Inilah juga mazhab Ibnu Abi Laila, Hasan, Ibnu Salah, Malik dan Daud.”

Tersebut dlm kitab Al-Um jilid 1 hlm.205 bahawa Imam Syafi’i berkata,maksudnya:

“Tak ada qunut dalam shalat yang lima waktu kecuali shalat Subuh. Kecuali jika terjadi bencana maka boleh qunut pada semua sembahyang jika imam menyukai.”

Tersebut dalam kitab Al-Mahalli jilid 1 hlm.157, berkata Imam JalaluddinAl-Mahalli, maksudnya:

“Disunatkan membaca Qunut pada i’tidal rakaat kedua dalam shalat Subuh dengan doa, Allahumahdini hingga selesai…”

Demikianlah keputusan dan kepastian hukum tentang membaca doa qunut subuh dalam mazhab kita As-Syafi’i.

ALASAN ORANG-ORANG YANG MENOLAK DOA QUNUT SUBUH
Hukum Membaca Doa Qunut ternyata ada juga yang mengharamkan (bid’ah). Ada orang yang berpendapat bahawa Nabi Muhammad saw melakukan doa Qunut satu bulan saja berdasarkan hadits Anas ra, maksudnya:

“Bahawasanya Nabi saw melakukan qunut selama satu bulan sesudah rukuk sambil mendoakan kecelakaan ke atas beberapa suku Arab. Kemudian baginda meninggalkannya.” Diriwayatkan oleh Bukhari dan Muslim.

Kita menjawab:

Hadits daripada Anas tersebut kita akui sebagi hadits yang shahih kerana terdapat dalam kitab hadits Imam Bukhari dan Imam Muslim. Akan tetapi yang menjadi permasalahan sekarang adalah kata:  (tsumma tarakahu= Kemudian Nabi meninggalkannya).

Apakah yg ditinggalkan oleh Nabi itu?

Meninggalkan qunutkah? Atau meninggalkan berdoa yang mengandungi kecelakaan ke atas suku-suku Arab zaman itu?

Untuk menjawab permasalahan inilah kita perhatikan baik-baik penjelasan Imam an-Nawawi dalam Al-Majmu’ jil.3,hlm.505 maksudnya:

“Adapun jawaban terhadap hadits Anas dan Abi Hurairah r.a dalam ucapannya dengan (tsumma tarakahu). Maka maksudnya adalah meninggalkan doa kecelakaan ke atas orang-orang kafir itu. Dan meninggalkan laknat terhadap mereka saja. Bukan meninggalkan seluruh doa qunut atau maksudnya meninggalkan doa qunut pada selain subuh. Pentafsiran seperti ini mesti dilakukan kerana hadits Anas di dalam ucapannya ‘senantiasa Nabi qunut di dalam shalat Subuh. Sehingga beliau meninggal dunia”. Ini adalah shahih lagi jelas maka wajiblah menggabungkan di antara kedua hadits tersebut.”

Imam Baihaqi meriwayatkan dan Abdur Rahman bin Madiyyil, bahawasanya beliau berkata, maksudnya:

“Hanyalah yang ditinggalkan oleh Nabi itu adalah melaknat.”

Tambahan lagi pentafsiran seperti ini dijelaskan oleh riwayat Abu Hurairah ra yg berbunyi, maksudnya:

“Kemudian Nabi menghentikan doa kecelakaan ke atas mereka.”

Dengan demikian dapatlah dibuat kesimpulan bahawa Qunut Nabi yang satu bulan itu adalah qunut nazilah. Dan doa qunut nazilah inilah yang ditinggalkan, bukan doa Qunut pada waktu shalat Subuh.

ALASAN LAINNYA KENAPA MEREKA MENOLAK DOA QUNUT SUBUH
Ada juga orang-orang yang tidak menyukai doa Qunut Subuh mengemukakan dalil hadits Saad bin Thariq. Yang juga bernama Abu Malik Al-Asja’i, maksudnya:

“Dari Abu Malik Al-Asja’i, beliau berkata: Aku pernah bertanya kepada bapakku, wahai bapak! Sesungguhnya engkau pernah shalat di belakang Rasulullah saw, Abu Bakar, Usman dan Ali bin Abi Thalib. Di sini di kufah selama kurang lebih dari lima tahun. Adakah mereka melakukan qunut?. Dijawab oleh bapaknya:”Wahai anakku, itu adalah bid’ah.” Diriwayatkan oleh Tirmizi.

Kita jawab:

Kalau benar Saad bin Thariq berkata begini maka sungguh mengherankan. Kerana hadits-hadits tentang Nabi dan para Khulafa Rasyidun yang melakukan doa Qunut sangat banyak. Juga ada di dalam kitab al-Bukhari, al-Muslim, Ibnu Majah, Abu Daud, Nasa’i dan Baihaqi.

Oleh karena itu ucapan Saad bin Thariq tersebut tidaklah diakui. Dan tidak terpakai di dlm mazhab Syafi’i dan juga mazhab Maliki.

Hal ini disebabkan oleh kerana beribu-ribu orang telah melihat Nabi melakukan doa Qunut, begitu pula sahabat baginda nabi. Padahal hanya Thariq seorang saja yang mengatakan doa qunut itu sebagai amalan bid’ah.

Maka dalam masalah ini berlakulah kaidah ushul fiqh yaitu:

“Almuthbitu muqaddimun a’la annafi”

Maksudnya: Orang yg menetapkan lebih didahulukan atas orang yang menafikan.

Tambahan lagi orang yang mengatakan ADA jauh lebih banyak daripada orang yang mengatakan TIDAK ADA.

Seperti inilah jawapan Imam Nawawi di dalam Al-Majmu’ jil.3,hlm.505, maksudnya:

“Dan jawaban kita terhadap hadits Saad bin Thariq adalah… Bahawa riwayat orang-orang yang menetapkan doa Qunut terdapat pada mereka itu tambahan ilmu dan juga mereka lebih banyak. Oleh karena itu wajiblah mendahulukan mereka”

Sayyidina Umar mengatakan bahawa doa qunut Subuh itu sunat
Pensyarah hadits Tirmizi yakni Ibnul ‘Arabi juga memberikan koment yang sama terhadap hadits Saad bin Thariq itu. Beliau mengatakan: “Telah sah dan tetap bahawa Nabi Muhammad saw melakukan doa qunut dalam shalat Subuh. Telah tetap pula bahawa Nabi ada Qunut sebelum rukuk atau sesudah rukuk. Telah tetap pula bahawa Nabi ada melakukan qunut nazilah. Dan para khalifah di Madinah pun melakukan qunut serta Sayyidina Umar mengatakan bahawa qunut itu sunat. Telah pula diamalkan di Masjid Madinah. Oleh itu janganlah kamu lihat dan jagan pula ambil perhatian terhadap ucapan yang lain daripada itu.”

Seorang ulama besar ahli fiqh dari Jakarta yakni Kiyai Haji Muhammad Syafi’i Hazami di dalam kitabnya Taudhihul Adillah. Beliau ketika memberi koment terhadap hadits Saad bin Thariq itu berkata:

“Sudah terang doa qunut (Subuh) itu bukan bid’ah menurut semua riwayat yang ada. Maka yang (menganggap) bid’ah itu adalah meragukan kesunatannya sehingga masih bertanya-tanya pula. Sudah gaharu cendana pula, sudahh tahu bertanya pula.”

Dengan demikian dapatlah kita fahami ketegasan Imam Uqaili yang mengatakan bahawa Abu Malik itu jangan diikuti haditsnya dalam masalah qunut. (Mizanul I’tidal jil.2,hlm.122).

ALASAN LAINNYA YANG MENOLAK DOA QUNUT SUBUH
Ada juga orang mengetengahkan riwayat dari Ibnu Masu’d. Yang mengatakan, maksudnya: “Nabi Muhammad Saw tidak pernah Qunut di dalam shalat apa pun.”

Kita jawab:

Riwayat ini menurut Imam Nawawi dalam Al-Majmu’ adalah terlalu dhaif. Kerana di antara perawinya terdapat Muhammad bin Jabir A-Suhaimi yang ucapannya selalu ditinggalkan oleh ahli-ahli hadits. Tersebut dalam kitab Mizanul I’tidal karangan Az-Zahabi bahawa Muhammad bin Jabir As-Suhaimi adalah orang yang dhaif. Menurut perkataan Ibnu Mu’in dan Imam Nasa’i.

Imam Bukhari mengatakan: “Ingatannya tidak kuat!”

Imam Abu Hatim mengatakan:”Dalam waktu yang akhir dia agak pelupa dan kitabnya telah hilang.” (Mizanul I’tidal jil. 3, hlm.492)

Kita juga boleh mengatakan dengan jawaban terdahulu bahawa orang yg mengatakan ADA lebih didahulukan. Daripada orang yang mengatakan TIDAK ADA berdasarkan kaedah:

“Al-muthbitu muqaddamun a’la annafi” maksudnya: “Orang yang menetapkan lebih didahulukan atas orang yang menafikan.

KENAPA MEREKA MENOLAK DOA QUNUT SUBUH, INILAH ALASAN LAINNYA
Mereka yang menolak Qunut Subuh, ada juga yang mengajukan dalil bahawa Ibnu Abbas berkata, maksudnya:

“Qunut pada shalat Subuh itu bid’ah.”

Kita jawab:

Hadits ini sangat dhaif kerana Al-Baihaqi meriwayatkannya dari Abu Laila Al-Kufi. Dan Baihaqi sendiri mengatakan bahawa hadits ini tidak shahih. Kerana Abu Laila itu adalah matruk (orang yg ditinggalkan haditsnya).

Tambahan lagi pada hadits yang lain Ibnu Abbas sendiri mengatakan, maksudnya: “Bahawa Nabi saw melakukan Qunut pada shalat subuh.”

MEREKA MENOLAK DOA QUNUT SUBUH KARENA NABI SAW MELARANG DOA QUNUT SUBUH?
Mereka yang menolak Qunut Subuh, ada juga yang membawa dalil bahawa Ummu Salamah berkata, maksudnya:

“Bahawasanya Nabi Saw melarang qunut pada shalat subuh.”

Kita jawab:

Hadits ini juga dhaif. Kerana diriwayatkan dari Muhammad bin Ya’la dari Anbasah bin Abdurrahman dari Abdullah bin Nafi dari bapanya dari Ummu Salamah.

Berkata Daruqutni: Ketiga orang itu semuanya adalah lemah dan tidak benar kalau Nafi mendengar hadits itu dari Ummu Salamah.

Tersebut dalam Mizanul I’tidal: Muhammad bin Ya’la itu diperkata-katakan oleh Imam Bukhari bahawa dia banyak menghilangkan hadits. Abu Hatim mengatakannya matruk. (mizanul I’tidal 4/70). Anbasah bin Abdurrahman menurut Imam Bukhari haditsnya matruk. Manakala Abdullah bin Nafi adalah orang yang banyak meriwayatkan hadits munkar. (Mizanul I’tidal 2/422).

Demikian, semoga bermanfaat soal pembahasan Hukum Membaca doa Qunut.
=========
Penjelasan masalah qunut:
Hukum membaca Qunut saat shalat tergantung kepada jenis qunutnya.

Sebab, Qunut dalam shalat dikenal ada tiga macam:

1. Qunut dalam shalat witir. Qunut ini disyariatkan disetiap sholat witir secara berkala, berdasarkan hadîts al-Hasan bin ‘Ali  radhiyallahu ‘anhu. Beliau rahimahullah berkata:

عَلَّمَنِي رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ كَلِمَاتٍ أَقُولُهُنَّ فِي الْوِتْرِ اللَّهُمَّ اهْدِنِي فِيمَنْ هَدَيْتَ وَعَافِنِي فِيمَنْ عَافَيْتَ وَتَوَلَّنِي فِيمَنْ تَوَلَّيْتَ وَبَارِكْ لِي فِيمَا أَعْطَيْتَ وَقِنِي شَرَّ مَا قَضَيْتَ فَإِنَّكَ تَقْضِي وَلاَ يُقْضَى عَلَيْكَ وَإِنَّهُ لاَ يَذِلُّ مَنْ وَالَيْتَ تَبَارَكْتَ رَبَّنَا وَتَعَالَيْتَ

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam telah mengajariku do’a-do’a yang aku ucapkan dalam witir yaitu:

اللَّهُمَّ اهْدِنِي فِيمَنْ هَدَيْتَ وَعَافِنِي فِيمَنْ عَافَيْتَ وَتَوَلَّنِي فِيمَنْ تَوَلَّيْتَ وَبَارِكْ لِي فِيمَا أَعْطَيْتَ وَقِنِي شَرَّ مَا قَضَيْتَ فَإِنَّكَ تَقْضِي وَلاَ يُقْضَى عَلَيْكَ وَإِنَّهُ لاَ يَذِلُّ مَنْ وَالَيْتَ تَبَارَكْتَ رَبَّنَا وَتَعَالَيْتَ

(HR at-Tirmidzi dan dishahîhkan al-Albâni dalam Shahîh at-Tirmidzî)

Demikian juga, hal ini di amalkan Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam sebagaimana dijelaskan Ubai bin Ka’ab radhiyallahu ‘anhu dalam penuturan beliau:

أَنَّ رَسُولَ اللَّهِ -صلى الله عليه وسلم- قَنَتَ فِى الْوِتْرِقَبْلَ الرُّكُوعِ

“Sesungguhnya Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam melakukan qunut dalam witir sebelum rukû’.” (HR.Abû Dâwud dan dishahîhkan al-Albâni dalam Shahih Abû Dawud)

2.  Qunut Nâzilah yang dilaksanakan ketika ada musibah atau bencana.
Qunut ini juga disyari’atkan dengan dasar amalan Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam, diantaranya:

قَنَتَ النَّبِىُّ شَهْرًا يَدْعُو عَلَى رِعْلٍ وَذَكْوَانَ

Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam melakukan qunut (Nâzilah) selama sebulan, berdo’a untuk kehancuran Ra’i dan Dzakwân. (HR al-Bukhâri). Demikian juga dalam hadits yang lain:

قَنَتَ رَسُولُ اللَّهِ – صلى الله عليه وسلم – شَهْرًا حِينَ قُتِلَ الْقُرَّاءُ

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam melakukan qunut selama sebulan ketika para penghafal al-Qur’an dibunuh. (HR al-Bukhâri)

Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah rahimahullah menyatakan: Qunut disyari’atkan pada saat adanya bencana dan ini adalah pendapat yang dipegang oleh ulama fikih dan ahli hadits. Ini diambil dari Khulafâ’ Râsyidîn. (Majmû’ Fatâwâ 23/108)

Syaikh Abdul Azhîm Badawi menjelaskan bahwa Qunut yang disyari’atkan dalam sholat fardhu hanyalah qunut Nazilah. (lihat Al-Wajîs Fî Fiqhi as-Sunnah wa al-Kitâb al-‘Azîz .109).

3.  Qunut khusus dalam shalat Shubuh yang dilakukan terus menerus seperti yang nampak dilakukan banyak kaum muslimin, adalah perkara bid`ah yang tidak ada dasar yang kuat dari Rasulullah n dan para Sahabatnya. Hal ini, merupakan perbuatan bid’ah yang telah dijelaskan secara tegas oleh Sahabat Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam.

Abû Mâlik al-asyja’i Sa’ad bin Tharîq berkata:

قُلْتُ لأَبِى يَا أَبَتِ إِنَّكَ قَدْ صَلَّيْتَ خَلْفَ رَسُولِ اللَّهِ -صلى الله عليه وسلم- وَأَبِى بَكْرٍ وَعُمَرَ وَعُثْمَانَ وَعَلِىٍّ هَا هُنَا بِالْكُوفَةِ نَحْوًا مِنْ خَمْسِ سِنِينَ فَكَانُوا يَقْنُتُونَ فِى الْفَجْرِ فَقَالَ أَىْ بُنَىَّ مُحْدَثٌ.

Artinya: “Aku bertanya kepada bapakku: Wahai bapakku, sungguhkah engkau pernah shalat dibelakang Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam, Abu Bakar, Umar dan Utsman serta Ali di Kufah ini selama lebih dari lima tahun. Apakah mereka pernah melakukan qunut dalam shalat shubuh? Beliau menjawab: Tidak benar Wahai anakku! Itu perkara baru (bid’ah). (HR. Ibnu Mâjah dan dishahîhkan al-Albâni dalam Irwâ’ al-Ghalîl no. 435)

Dengan demikian jelaslah hukum membaca qunut dalam shalat. Wabillâhi taufîq.



Berlangganan Untuk Mendapatkan Artikel Terbaru:

0 Komentar Untuk "Dalil Dan Hukum Membaca Qunut Dalam Shalat Fardhu dan Dalil Dan Hukum Membaca Qunut Dalam Serta Witir"

Posting Komentar