IBX5980432E7F390 Syarat dan Tatacara Taubat Agar Diterima Allah Ta’ala - Global MengaJi

Syarat dan Tatacara Taubat Agar Diterima Allah Ta’ala


Secara Bahasa, at-Taubah berasal dari kata تَوَبَ yang bermakna kembali. Dia bertaubat,  artinya ia kembali dari dosanya (berpaling dan menarik diri dari dosa)[1]. Taubat adalah kembali kepada Allâh Ta'ala dengan melepaskan hati dari belenggu yang membuatnya terus-menerus melakukan dosa lalu melaksanakan semua hak Allâh Azza wa Jalla .
Secara Syar’i, taubat adalah meninggalkan dosa karena takut pada Allâh, menganggapnya buruk, menyesali perbuatan maksiatnya, bertekad kuat untuk tidak mengulanginya, dan memperbaiki apa yang mungkin bisa diperbaiki kembali dari amalnya.
Bertaubat kepada Allah Ta’ala dari segala perbuatan dosa adalah kewajiban setiap Muslim. Taubat tidak boleh ditunda-tunda dan diulur-ulur. 
Ada beberapa adab dan amalan yang harus dijaga dan dilakukan agar taubat kita diterima Allah Ta’ala, diantaranya:

1. Ikhlas
Hendaklah seseorang itu bertaubah semata-mata ikhlas mengharapkan wajah Allah Ta’ala, bukan karena takut terhadap hukuman duniawi atau yang selainnya. Allah Ta’ala berfirman: 
وَتُوبُوٓاْ إِلَى ٱللَّهِ جَمِيعًا أَيُّهَ ٱلۡمُؤۡمِنُونَ لَعَلَّكُمۡ تُفۡلِحُونَ ...
Dan bertaubatlah kamu sekalian kepada Allah, hai orang-orang yang beriman supaya kamu beruntung.(Q.S.An-Nur.31).
Dan firmanNya:
َ...ـٰٓأَيُّہَا ٱلَّذِينَ ءَامَنُواْ تُوبُوٓاْ إِلَى ٱللَّهِ تَوۡبَةً۬ نَّصُوحًا عَسَىٰ رَبُّكُمۡ أَن يُكَفِّرَ عَنكُمۡ سَيِّـَٔاتِكُمۡ وَيُدۡخِلَڪُمۡ جَنَّـٰتٍ۬ تَجۡرِى مِن تَحۡتِهَا ٱلۡأَنۡهَـٰرُ
Hai orang-orang yang beriman, bertaubatlah kepada Allah dengan taubat yang semurni-murninya, mudah-mudahan Tuhan kamu akan menghapus kesalahan-kesalahanmu dan memasukkan kamu ke dalam surga yang mengalir di bawahnya sungai-sungai,...(Q.S.at-Tahrim: 8).

2. Bertaubah dari Segala Dosa
Bertaubatlah dari segala dosa, bukan dari satu jenis dosa saja; bukan bertaubat dari sebagian dosa dan mempertahankan sebagian lainnya.

3. Hendaknya Bertaubat pada Waktu Diterimanya Taubat
Waktu diterimanya taubat seseorang sebagai berikut:
1. Waktu khusus dalam umur setiap manusia, yaitu sebelum nyawa sampai di kerongkongan.
2. Waktu yang umum dalam umur zaman, yaitu sebelum terbitnya matahari dari barat. Masing-masing dari kedua waktu itu mempunyai dalil seperti berikut:
 ... وَلَيۡسَتِ ٱلتَّوۡبَةُ لِلَّذِينَ يَعۡمَلُونَ ٱلسَّيِّـَٔاتِ حَتَّىٰٓ إِذَا حَضَرَ أَحَدَهُمُ ٱلۡمَوۡتُ قَالَ إِنِّى تُبۡتُ ٱلۡـَٔـٰنَ
"Dan tidaklah taubat itu diterima Allah dari orang-orang yang mengerjakan kejahatan [yang] hingga apabila datang ajal kepada seseorang di antara mereka, [barulah] ia mengatakan: "Sesungguhnya saya bertaubat sekarang..."(QS.An-Nisa:18).
يَوۡمَ يَأۡتِى بَعۡضُ ءَايَـٰتِ رَبِّكَ لَا يَنفَعُ نَفۡسًا إِيمَـٰنُہَا لَمۡ تَكُنۡ ءَامَنَتۡ مِن قَبۡلُ أَوۡ كَسَبَتۡ فِىٓ إِيمَـٰنِہَا خَيۡرً۬ا‌ۗ 
" ... Pada hari datangnya sebagian tanda-tanda Tuhanmu tidaklah bermanfa’at lagi iman seseorang bagi dirinya sendiri yang belum beriman sebelum itu, atau dia [belum] mengusahakan kebaikan dalam masa imannya.... "(QS.Al-An'am:158).

4. Menyegerakan Taubat
Sesungguhnya syaitan senantiasa menghiasi perbuatan manusia untuk menunda-nunda dan mengulur-ulur taubat sehingga ia mati dalam keadaan belum bertaubat.
إِنَّمَا ٱلتَّوۡبَةُ عَلَى ٱللَّهِ لِلَّذِينَ يَعۡمَلُونَ ٱلسُّوٓءَ بِجَهَـٰلَةٍ۬ ثُمَّ يَتُوبُونَ مِن قَرِيبٍ۬ فَأُوْلَـٰٓٮِٕكَ يَتُوبُ ٱللَّهُ عَلَيۡہِمۡ‌ۗ وَكَانَ ٱللَّهُ عَلِيمًا حَڪِيمً۬ا
Sesungguhnya taubat di sisi Allah hanyalah taubat bagi orang-orang yang mengerjakan kejahatan lantaran kejahilan [3], yang kemudian mereka bertaubat dengan segera, maka mereka itulah yang diterima Allah taubatnya; dan Allah Maha Mengetahui lagi Maha Bijaksana. (QS.An-Nisa:17).

5. Menyesali Dosa dan Maksiat
Wajib atas Muslim menyesali perbuatan masiat yang telah ia lakukan. Demikian juga kelalaiannya dalam menunaikan hak-hak Allah. Penyesalan itu merupakan salah satu syarat sahnya taubat seseorang.
Rasulullah saw.bersabda: "Penyesalan adalah taubat."[2]

6. Berazam (Bertekad) untuk Tidak Mengulangi Perbuatan Maksiat
Berazam juga termasuk syarat sahnya taubat, yakni seseorang bertekad untuk tidak mengulangi perbuatan maksiat. Jika syarat ini belum dipenuhi, maka taubat belum dianggap sah.
وَٱلَّذِينَ إِذَا فَعَلُواْ فَـٰحِشَةً أَوۡ ظَلَمُوٓاْ أَنفُسَہُمۡ ذَكَرُواْ ٱللَّهَ فَٱسۡتَغۡفَرُواْ لِذُنُوبِهِمۡ وَمَن يَغۡفِرُ ٱلذُّنُوبَ إِلَّا ٱللَّهُ وَلَمۡ يُصِرُّواْ عَلَىٰ مَا فَعَلُواْ وَهُمۡ يَعۡلَمُونَ (١٣٥) أُوْلَـٰٓٮِٕكَ جَزَآؤُهُم مَّغۡفِرَةٌ۬ مِّن رَّبِّهِمۡ وَجَنَّـٰتٌ۬ تَجۡرِى مِن تَحۡتِهَا ٱلۡأَنۡہَـٰرُ خَـٰلِدِينَ فِيہَا‌ۚ وَنِعۡمَ أَجۡرُ ٱلۡعَـٰمِلِينَ (١٣٦
Dan [juga] orang-orang yang apabila mengerjakan perbuatan keji atau menganiaya diri sendiri, mereka ingat akan Allah, lalu memohon ampun terhadap dosa-dosa mereka dan siapa lagi yang dapat mengampuni dosa selain daripada Allah? Dan mereka tidak meneruskan perbuatan kejinya itu, sedang mereka mengetahui. (135) Mereka itu balasannya ialah ampunan dari Tuhan mereka dan surga yang di dalamnya mengalir sungai-sungai, sedang mereka kekal di dalamnya; dan itulah sebaik-baik pahala orang-orang yang beramal. (136).[QS.Ali Imran:135-136]

7. Tunduk Bersimpuh di Hadapan Allah Ta’ala
Wajib atas seseorang yang bertaubat agar menunjukkan ketundukan di hadapan Allah, merasa butuh dan senantiasa bergantung kepada rahmat-Nya, serta mendatangi pintu-Nya serta meyakini bahwasanya ia akan binasa dan merugi jika tidak bertaubat kepadaNya.

8. Bertaubat dengan Hati, Lisan dan Anggota Badan
Hendaknya seseorang bertaubat dengan hatinya, yakni menyesali apa yang telah lalu dan berazam untuk tidak mengulanginya. Bertaubat dengan lisan adalah dengan memperbanyak istighfar dan taubat sebagaimana Rasulullah saw. bersabda:
 يَا أَيُّهَا النَّاسُ، تُوْبُوْا إِلَى اللهِ وَاسْتَغْفِرُوْهُ، فَإِنِّيْ أَتُوْبُ إِلَى اللهِ وَأَسْتَغْفِرُهُ فِي كُلِّ يَوْمٍ مِائَةَ مَرَّةٍ
"Wahai sekalian manusia, bertaubatlah kepada Allah! sesungguhnya Aku bertaubat kepada-Nya seratus kali setiap hari."[3]

9. Meninggalkan Maksiat
Hendaknya orang yang bertaubat meninggalkan perbuatan maksiat dan tidak mengulanginya. Taubat tidak sah tanpa ini. Termasuk dalam hal ini keislaman orang kafir, taubatnya dari kekufuran adalah dengan masuknya ia ke dalam Islam, sebagaimana firman Allah SWT.:
إِلَّا مَن تَابَ وَءَامَنَ وَعَمِلَ عَمَلاً۬ صَـٰلِحً۬ا فَأُوْلَـٰٓٮِٕكَ يُبَدِّلُ ٱللَّهُ سَيِّـَٔاتِهِمۡ حَسَنَـٰتٍ۬‌ۗ وَكَانَ ٱللَّهُ غَفُورً۬ا رَّحِيمً۬ا
kecuali orang-orang yang bertaubat, beriman dan mengerjakan amal saleh; maka kejahatan mereka diganti Allah dengan kebaikan. Dan adalah Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang. (QS.Al-Furqan: 70).

10. Mengembalikan Hak-Hak Orang yang Didzalimi atau Meminta Dihalalkan
Seseorang yang bertaubat wajib mengembalikan harta yang ia curi maupun rampas kepada pemiliknya atau minta dihalalkan. Demikian juga ia harus meminta dihalalkan kepada orang yang telah dirusak kehormatannya, di ghibah-i, dibongkar aibnya, dan yang lainnya.
Rasulullah saw. bersabda:
مَنْ كَانَتْ لَهُ مَظْلَمَةٌ لِأَخِيهِ مِنْ عِرْضِهِ أَوْ شَيْءٍ فَلْيَتَحَلَّلْهُ مِنْهُ اليَوْمَ قَبْلَ أَنْ لاَ يَكُونَ دِينَارٌ وَلاَ دِرْهَمٌ ، إِنْ كَانَ لَهُ عَمَلٌ صَالِحٌ أُخِذَ مِنْهُ بِقَدْرِ مَظْلَمَتِهِ ، وَإِنْ لَمْ تَكُنْ لَهُ حَسَنَاتٌ أُخِذَ مِنْ سَيِّئَاتِ صَاحِبِهِ فَحُمِلَ عَلَيْهِ
"Barangsiapa yang telah berbuat zhalim terhadap saudaranya, baik dalam harta maupun kehormatannya, hendaklah ia meminta dihalalkan kepadanya sekarang, sebelum datang hari ketika tiada lagi dinar dan dirham. Jika ia memiliki amal shaleh, maka akan diambil darinya sekedar kedzalimannya, jika ia tidak memiliki amal shalih, maka akan diambil dosa orang yang dizhalimi dan dibebankan kepadanya."[4]

11. Mengganti Keburukan dengan Kebaikan
Allah Ta'ala berfirman:
إِنَّ ٱلۡحَسَنَـٰتِ يُذۡهِبۡنَ ٱلسَّيِّـَٔاتِ‌ۚ 
"... Sesungguhnya perbuatan-perbuatan yang baik itu menghapuskan [dosa] perbuatan-perbuatan yang buruk..."(QS.Hud: 114).
Juga Nabi saw. bersabda:
" ... Iringilah keburukan dengn kebaikan, niscaya ia akan menghapuskannya ..."[5]

12. Menjadi lebih Baik Secara Umum Setelah Bertaubat
Hendaknya seseorang menjadi lebih baik setelah bertaubat, baik dalam perilaku, muamalah, dan seluruh keadaannya. Ini merupakan tanda taubat nashuha (sebenar-benarnya) dan inilah yang dimaksudkan.

13. Menutup Aib Diri Apabila Allah Menutupinya dan Tidak Membongkarnya
Janganlah seseorang menceritakan kemaksiatan dirinya, namun ia harus menyembunyikan maksiat yang dilakukannya dan menutup aib dirinya. Janganlah diceritakan aibnya itu kepada orang lain.
Nabi saw. bersabda:
"Jauhilah perbuatan-perbuatan kotor yang telah dilarang Allah. Barang siapa tertimpa sesuatu darinya, hendaklah ia menutupinya selama Allah menutupinya dan bertaubatlah kepada  Allah."[6]
Juga sabda Rasulullah saw.:
كُلُّ أَمَّتِي مُعَافًى إِلاَّ الْمُجَاهِرِينَ وَإِنَّ مِنَ الْمَجَانَةِ أَنْ يَعْمَلَ الرَّجُلُ بِاللَّيْلِ عَمَلاً ثُمَّ يُصْبِحَ وَقَدْ سَتَرَهُ اللَّهُ فَيَقُولَ يَا فُلاَنُ عَمِلْتُ الْبَارِحَةَ كَذَا وَكَذَا وَقَدْ بَاتَ يَسْتُرُهُ رَبُّهُ وَيُصْبِحُ يَكْشِفُ سِتْرَ اللهِ عَنْه
"Seluruh umaatku di maafkan kecuali al-mujaahiriin (orang yang menyebarkan perbuatan maksiatnya). Termasuk ijhaar adalah seseorang hamba melakukan maksiat pada malam hari. Kemudian pada pagi harinya Allah menutupinya. Namun ia malah berkata: 'Wahai fulan! Aku telah melakukan begini dan begini tadi malam.' Paada malam hari Allah menutupi aibnya, tetapi keesokan harinya ia membuka penutup Allah dari aib dirinya."[7]

14. Selalu Memperbaharui Taubat
Kadangkala seseorang bertaubat, namun kemudian kembali melakukan maksiat sehingga ia harus bertaubat lagi. Oleh karena itulah hendaknya selalu memperbaharui taubat dengan hati dan lisan.

Barang siapa yang menghiasai diri dengan adab-adab ini dan menyempurnakannya dalam taubatnya, kita berharap ia termasuk golongan orang yang Allah sebutkan dalam firma-Nya:

إِلَّا مَن تَابَ وَءَامَنَ وَعَمِلَ عَمَلاً۬ صَـٰلِحً۬ا فَأُوْلَـٰٓٮِٕكَ يُبَدِّلُ ٱللَّهُ سَيِّـَٔاتِهِمۡ حَسَنَـٰتٍ۬‌ۗ وَكَانَ ٱللَّهُ غَفُورً۬ا رَّحِيمً۬ا (٧٠) وَمَن تَابَ وَعَمِلَ صَـٰلِحً۬ا فَإِنَّهُ ۥ يَتُوبُ إِلَى ٱللَّهِ مَتَابً۬ا (٧١
"kecuali orang-orang yang bertaubat, beriman dan mengerjakan amal saleh; maka kejahatan mereka diganti Allah dengan kebaikan. Dan adalah Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang. (70) Dan orang yang bertaubat dan mengerjakan amal saleh, maka sesungguhnya dia bertaubat kepada Allah dengan taubat yang sebenar-benarnya." (71) [QS.Al-Furqan: 70-71]
Sebarkan, in syaa Allah bermanfaat.


               ﺳُﺒْﺤَﺎﻧَﻚَ ﺍﻟﻠَّﻬُﻢَّ ﻭَﺑِﺤَﻤْﺪِﻙَ ﺃَﺷْﻬَﺪُ ﺃَﻥْ ﻻَ ﺇِﻟﻪَ ﺇِﻻَّ ﺃَﻧْﺖَ ﺃَﺳْﺘَﻐْﻔِﺮُﻙَ ﻭَﺃَﺗُﻮْﺏُ ﺇِﻟَﻴْﻚ 
“Maha suci Engkau ya Allah, dan segala puji bagi-Mu. Aku bersaksi bahwa tiada Tuhan melainkan Engkau. Aku mohon ampun dan bertaubat kepada-Mu.”
Sumber:
Ensiklopedi Adab Islam Menurut Al-Qur'an dan as-Sunnah hal. 270-280, 'Abdul 'Aziz bin Fathi as-Sayyid Nada, Penerbit: Pustaka Imam Syafi'i. Telah diedit untuk keselarasan.
------------------------------------------------------------------------------------------------
[1] Ibnu Faris, Mu’jam Maqâyis al-Lughah, 1/357.
[2] HR.Ahmad (1/376), Ibnu Majah (4252), serta al-Hakim (IV/243) dan ia menshahihkannya serta disetujui oleh adz-Dzahabi dari jalur Anas r.a.
[3] HR Muslim (2702) DAARI aL-Aghar al-Muzani.
[4] HR. Bukhari (2449) dari Abu Hurairah r.a.
[5] HR.Ahmad (V/153), at-Tarmidzi (1987) dan ia menshahihkannya, al-Baihaqi dalam asy-Syu'ab (8026), al-Hakim (I/53) dan ia menshahihkannya seta disetujui adz-Dzahabi dari Abu Dzar r.a, dikeluarkan juga oleh Ahmad (V/236), at-Tirmidzi (1987) dan al-Baihaqi dalam asy-Syu'ab (8023) dari Muadz r.a. 
[6] HR al-Hakim (V/244) dan ia menshahihkannya serta disetujui adz-Dzahabi, al-Baihaqi (VIII/330) dari Ibnu Umar r.a.
[7] HR Bukhari (6069) dan Muslim (2990) Dari Abu Hurairah r.a.

Berlangganan Untuk Mendapatkan Artikel Terbaru:

0 Komentar Untuk " Syarat dan Tatacara Taubat Agar Diterima Allah Ta’ala"

Posting Komentar